Terpaksa nanti aku minta ortu kalau lagi butuh buat kuliah.Saat itu anak-anak mbak Dewi sedang sekolah. Bokep Mbak Dewi masih di pelukanku. Ia bertumpu dengan sofa, lalu ia gerakkan atas bawah.“Ohh….wan…enak wan…”, katanya.“Ohhh…mbak…Mbak Dewi…ahhh…”, kataku.Dadanya naik turun. Rasanya aneh, tapi aku suka. Dan aku menggandeng tangan mbak Dewi. “Tapi mbak Dewi masih cantik ya?”Ia ketawa, “Ada-ada saja kamu”.Selama tinggal di rumahnya mbak Dewi. Aku baru pertama kali melakukannya. Dan di dalam mobil itu aku benar-benar berdebar-debar.“Capek Dek Iwan?”, tanyanya.“Iyalah mbak, di kereta duduk terus dari pagi”, jawabku. Malam itu sepi dan hujan di luar sana. Namun setiap kali aku bilang ke mbak Dewi bahwa perasaanku serius.Hari-hari berlalu. Kudorong maju mundur, posisi normal ini membuatku makin keenakan. Lumayan banyak belanjaan kami. Aku pun jadi dekat dengan anak-anaknya.




















