Aroma asli seorang wanita. Bokep Aku tidak berani menatap wajahnya. Ah bodoh. Sial. Kaki kusandarkan di tembok yang membuat ia bebas berlama-lama membersihkan bagian belakang pahaku. Ia menurunkan sedikit tali kolor sehingga pinggulku tersentuh. Aku memegang teteknya. Cukuplah kalau tanganku menyergapnya. Ke bawah lagi: Turun. Keringatnya meleleh seperti yang kulihat sekarang. Aku tiduran sambil baca majalah yang tergeletak di rak samping tempat tidur kecil itu. Kali ini lebih bertenaga dan aku memang benar-benar pegal, sehingga terbuai pijitannya.“Telentang..!” katanya.Kuputuskan untuk berani menatap wajahnya. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Ke bawah lagi: Turun. Betulkan, ia tidak akan datang begitu saja. “Ini..?” kataku. Apakah suaraku mengganggu ketenangan mereka? Masih ada esok. Atau mau gunting? Seakan sengaja memainkan Si Junior. Kring..! Dari iramanya bukan sedang berjalan.




















