Dan itu sudah lebih dari cukup bagiku. “Panas..badanku terasa panas..Erik..” pikirku dalam hati. Bokep Aku terlalu malu untuk memandang wajahnya. Tersenyum Erik mengecup kepalaku sambil mengelusnya. Marah yaa? Kenapa??!!”
Dia melihatku dengan pandangan marah. “Emm..” aku tidak berani bilang kalau aku merasa sakit. “Ini akibatnya kalau jadi perempuan genit!!”
Erik menariknya lagi untuk kedua kalinya, pakaian dalamku semakin terlihat. “Hmm..kamu menyukainya bukan? Apa kau kenal dengan anak ini?”, tanyanya. Dan lagi, sekarang.. Dan aku segera membenamkan diriku ke dalam pelukan Erik.“Terima kasih..Erik.” Kamu tidak harus memanggil aku ‘ayah’ atau sebutan lainnya, panggil saja aku Erik.”
Sambil mengalihkan pandangannya ke temannya, dia melanjutkan,”Nah.., ini adalah temanku, namanya Tomi.”
Akupun menyunggingkan senyuman ke arah Tomi yang membalasku dengan senyuman hangat.Aku sama sekali tidak percaya bahwa ternyata Erik tinggal sendirian di rumah megah seperti ini dan masih berusia 24 tahun saat



















