Dan kebetulan sekali aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup keren. Memang tingkahku tidak ubahnya seorang anak balita.Tangisanku baru berhenti setelah Ayah berjanji akan membelikanku motor. Bokep Linda memandangi tubuhku dan kepala sampai ke kaki. “Siapa namanya?” tanya Tante Maya lagi. Dan aku selalu menganggapnya sebagai teman biasa saja. Waktu itu aku benar-benar bodoh dan tidak tahu apa-apa. Bahkan aku sampai tertawa sendiri. Dan sikapku juga terus seperti anak balita, walau usiaku sudah cukup dewasa.Pernah aku menangis semalaman dan mengurung diri di dalam kamar hanya karena Mbak Indri menikah. Karena apapun yang aku ingin minta, selalu saja diberikan. Padahal banyak teman-temanku, terutama yang cowok bilang kalau gadis itu menaruh hati padaku.Sebut saja namanya Linda. Memang aku seperti anak kecil, menurut saja dibawa ke dalam kamar gadis ini.




















