Ia menyenggol kepala juniorku. Ke bawah lagi: Tidak. Bokep Ya nggak apa-apa,” katanya menjawab telepon.“Siapa Mbak..?” kataku sambil menancapkan Junior amblas seluruhnya.“Si Nina, yang tadi. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Ke bawah lagi: Hah habis kancingku habis. Eh bisa juga wanita setengah baya ini ramah kepadaku.Lalu ia membersihkan pahaku sebelah kiri, ke pangkal paha. Eh.., kesempatan, kesempatan, kesempatan. Ke bawah lagi: Tidak. Semua orang bebas masuk asal punya uang. Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Garis setrikaannya masih terlihat. Tangannya halus. Aku memegang teteknya. Aku bisa dapatkan ia, wanita setengah baya yang meleleh keringatnya di angkot karena kepanasan. Seperti kulihat ketika ia baru naik tadi, setelah mengejar angkot ini sekadar untuk dapat secuil tempat duduk.“Terima kasih,” ujarnya ringan.Aku sebetulnya ingin ada sesuatu yang bisa diomongkan lagi, sehingga tidak




















