Aku berbaring miring membelakangi dia. Bokep Satu kali aku baru pulang dari latihan sepakbola, saat membuka pintu kudapati Tante Ratih lagi bergunjing dengan ibuku. “Gimana kalau saya temani Tante supaya tidak takut?”, aku sendiri terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulutku, mungkin karena sudah mengantuk sangat. Ke-lelakian-ku tersinggung. Paling mudah kalau mereka main catur di rumahku. Entahlah orang dari daerah mana suaminya ini. “Punyamu panjang sekali.”
“Memek Tante tebal dan enak sekali”, kataku balas memuji dia. Aku khawatir kalau-kalau bayinya nanti hitam. Kotaku itu adalah kota yang masih kolot, apalagi di lingkungan tempat aku tinggal. Tante Ratih. Dia menghirup lagi sebelum gelas besar itu dia kembalikan padaku. Otakku lebih terbuka mencerna rumus-rumus ilmu pasti dan fisika kalau pagi. “Sebentar lagi ya Tante,” kataku meminta , dan dia mengangguk mengerti. Setiap kali sambil menahan nikmat dia




















